M. Lutfi Hakim Sabtu, 29 Februari 2020
Sewaktu masih kecil, saya dan teman-teman sebaya pernah diberi cangkriman oleh Kang Qomar, salah seorang abdi dalem di pondok pesantren tempat saya belajar dulu. “Menurut kalian, lebih baik mana antara indra penglihatan dan indra pendengaran?”
Semua sepakat menjawab, “Mata!”
“Salah,” kata Kang Qomar, “pendengaran jauh lebih utama ketimbang penglihatan.”
“Alasannya, Kang?” tanya kami penasaran.
“Sederhana saja. Seumpama ada orang buta ingin menyeberang jalan, maka orang-orang di sekitarnya yang punya belas kasihan akan dengan senang hati menolongnya. Tapi sebaliknya, orang tuli yang sedang menyeberang bisa dimarahi semua pengguna jalan hanya karena ia tidak mendengar bunyi klakson.”
Kalau dipikir-pikir, benar juga, ya?
Bertahun-tahun setelah obrolan itu berlalu, saya masih sangat ingat dan makin penasaran dengan alasan-alasan lain yang lebih logis dan ilmiah.
Dalam kompilasi fatwa-fatwanya yang berjudul Al-Fatâwâ al-Hadîtsiyyah, Ibnu Hajar al-Haitami disebutkan pernah ditanya tentang hal ini; kemudian beliau menjawab, “Jumhur fukaha berpendapat bahwa indra pendengaran lebih unggul daripada indra penglihatan. Karena, dalam Alquran surah Yunus ayat 42, Allah mengaitkan hilangnya akal dengan hilangnya pendengaran, dan tidak demikian halnya dengan indra penglihatan.”
Dalam banyak ayat Alquran, lanjut Ibnu Hajar, kata As-Samî’ (Maha Mendengar) didahulukan dari kata Al-Bashîr (Maha Melihat). Pendahuluan suatu perkara, seperti dijelaskan banyak ulama, menunjukkan keutamaan perkara tersebut—kecuali ada dalil khusus yang memberi petunjuk sebaliknya.
Hal senada juga disampaikan Nasiruddin Al-Baidhawi dalam tafsirnya, Anwârut Tanzîl wa Asrârut Ta’wîl. Menurutnya, ilmu (pengetahuan) yang diserap melalui indra pendengaran jauh lebih banyak daripada yang ditangkap oleh indra penglihatan. Pendengaran merupakan indra pertama manusia yang berfungsi dan, menurut banyak kisah, yang terakhir berfungsi sebelum tubuh kita mati.
Sampai di sini, mari kita renungkan sejenak ... benarkah apa yang kita ketahui selama ini lebih banyak berasal dari indra pendengaran? Atau, dengan ungkapan berbeda, informasi dari kokleakah yang lebih melekat dalam ingatan kita?