Dua Ragam Jalan Menuju Tuhan

M. Lutfi Hakim Sabtu, 8 Agustus 2015


Pertama, melalui kenikmatan duniawi. Seperti ekonomi mapan, karier cemerlang, istri cantik, anak-anak yang berprestasi, dan lain sebagainya. Sebagian orang yang mendapatkannya sadar bahwa semua itu adalah pemberian dari Allah. Maka, oleh sebab itu, ia kemudian bersyukur dengan semakin meningkatkan kualitas amal ibadahnya. Tapi belum tentu, seandainya orang tersebut diuji dengan kehidupan yang serbasulit, ia akan senantiasa mengingat-Nya.

Golongan orang dengan jenis pertama ini jumlahnya relatif sedikit. Dan karena itulah, tulisan ini tidak akan mengulasnya panjang lebar. Sebaliknya, yang paling banyak terjadi adalah model yang kedua berikut.

Yaitu orang yang “digiring” menuju Tuhan melalui jalan kesengsaraan, kemelaratan, kecemasan, ketakutan, dan hal-hal tidak mengenakkan lainnya. “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)

Sebagai perumpamaan untuk memperjelas, anggap saja begini: Allah memiliki seekor anjing. Melalui anjing ini, Ia kemudian menggiring dan menakut-nakuti manusia sehingga membuat mereka lari terbirit-birit. Manusia itu terus berlari karena rasa takut akan gigitan anjing; sebagian ada yang jatuh terperosok ke dalam jurang, sebagian yang lain bisa selamat dan sampai ke tempat yang aman, yaitu di sisi Sang Pemilik Anjing.

Alangkah beruntungnya mereka yang bisa sampai kepada Sang Pemilik Anjing. Karena Dialah tempat kembali yang sesungguhnya. Innâ lillâh wa innâ ilaihi râji’ûn (sesungguhnya kita semua adalah milik Allah, dan kepada-Nya pula kita akan kembali). Meskipun, tentu saja, dalam masa pelarian itu ia akan mengalami hal-hal yang menyakitkan seperti kaki terluka akibat tersandung batu atau tertusuk duri.

Adapun contoh di dunia nyata adalah orang-orang yang dalam hidupnya punya, misalnya, rasa takut yang berlebihan terhadap makhluk halus atau tempat-tempat gelap dan sepi. Karena diliputi rasa takut terus-menerus, mereka lalu mencari kedamaian dengan memperbanyak amalan ibadah, salat, dan zikir. Setelah menjalaninya beberapa waktu secara rutin, mereka merasa jiwanya menjadi semakin tenteram.

Orang seperti ini biasanya punya semangat beribadah yang luar biasa. Dan, pada fase tertentu, mungkin ia akan menyimpulkan bahwa amalan-amalan itulah yang membuat keadaan psikologisnya kian membaik. Lebih lanjut lagi, ia akan meyakini bahwa hanya dengan amalan-amalan itulah dirinya bisa dekat dengan Allah. Padahal, disadari atau tidak, yang menjadikan tenteram-tidaknya jiwa manusia hanyalah Allah, dan bukan yang lain; yang menyebabkan manusia masuk surga bukanlah amal ibadahnya, melainkan semata-mata karena rahmat-Nya.

Terkait hal ini, Rasulullah pernah bersabda, “Amal ibadah kalian tidak akan menyebabkan kalian masuk surga.” Ketika para sahabat bertanya apakah Rasulullah juga begitu, beliau pun menjawab, “Begitu pula aku, kecuali jika Allah melimpahkan rahmat-Nya.” [HR. Bukhari]

Dengan demikian, amal ibadah manusia kelompok kedua ini—dan kelompok pertama juga—sesungguhnya belum bisa dikatakan benar-benar ikhlas (lillahi ta’ala). Semua masih karena “perkara dunia”. Tapi masih ada baiknya. Ia bisa masuk ke jalur yang benar.

Nah, jika sudah benar-benar masuk, biasanya semangatnya bukan main. Katanya, “Ibadah kok cuma segitu, masih kurang banyak.” Saya pernah mengalaminya sendiri saat pertama kali mendapat ijazah wirid dari guru mursyid. Waktu itu, karena bukan termasuk orang yang taat beribadah, saya sempat berkata dalam hati, “Ternyata wiridannya cuma sedikit.”



Merupakan hal yang wajar jika seseorang baru mulai memasuki dunia tarekat, ia akan memiliki semangat spiritual yang luar biasa. Dan pada akhirnya amalan-amalan itulah yang diagung-agungkan. Seakan-akan hanya melalui amalan itulah dirinya bisa dekat dengan Allah. Ia mungkin lupa, atau tidak sadar, dengan hakikat atau tujuan semula bahwa semua—dalam arti kata yang seluas-luasnya—dibuat lillâh (karena Allah), billâh (melalui Allah), minallâh (dari Allah), dan ilallâh (kepada Allah).

Berhubung mengetahui apakah diri kita ini masih mengandalkan amal atau sudah lillahi ta’ala itu sulit, maka dari itu diberilah semacam pertanda.

Dalam kitab Hikam-nya, Syekh Ibnu Atha’illah as-Sakandari mengatakan, “Min alâmatil i’timâd alal amal, nuqshânur rajâ’ inda wujûdiz zalal.” Maksudnya, bukti kalau amal perbuatan kita belum bergantung sepenuhnya kepada Allah, adalah apabila pada suatu ketika melakukan kesalahan, baik berupa dosa maupun berkurangnya porsi ibadah, maka kita akan menyesal dan merasa gagal, merasa tidak bisa terbukakan hatinya (futuh), merasa tidak bisa wusul kepada Allah.... Padahal, itu tadi, yang bisa mengantarkan diri kita menuju Tuhan bukanlah amal, melainkan rahmat-Nya semata.

Lantas, jika bergantung pada amal itu tidak dibenarkan, untuk apa kita beramal? Apakah berarti kita tidak usah beramal saja?



Sebagai hamba yang mencintai Sang Raja, sudah semestinya kita melaksanakan perintah-Nya tanpa mengharap imbalan apa pun. Toh apa yang kita kerjakan selama ini sebenarnya tidak layak untuk diganjar, bukan?

Untuk bisa cinta kepada Allah, syaratnya kita harus dicintai dulu oleh-Nya. Jika Allah belum cinta pada kita, kita juga belum bisa mencintai-Nya. Dalam Alquran surah Al-Mâ’idah ayat 54 disebutkan, “Yuhibbuhum wa yuhibbûnahû (mereka yang dicintai-Nya dan mencintai-Nya).”

Ada sebagian orang yang mengaku cinta pada Allah, tapi perilakunya sehari-hari tidak mencerminkan demikian. Mengharap belas kasihan dari Allah tanpa melakukan apa yang menjadi perintah-Nya, dan (berusaha) menjauhi semua larangan-Nya, tentu saja tidak dibenarkan.

Amal ibadah tetap kita kerjakan sebagai wujud kecintaan kita kepada Sang Khaliq, bukan sebagai sarana untuk mencapai tujuan seperti memperlancar rezeki, tehindar dari gangguan makhluk halus; dan bahkan sekalipun untuk hal-hal ukhrawi seperti pahala, surga, atau terhindar dari siksa neraka. Sekali lagi, amal ibadah sebagai tujuan, bukan alat untuk mencapai tujuan.

Rasulullah adalah manusia yang tidak pernah sekali pun melakukan dosa dan dijamin masuk surga. Tapi mengapa beliau tetap rajin beribadah? Bahkan amal ibadah Rasulullah jauh lebih banyak daripada kita yang masih bergelimang dosa. Jawabannya adalah, karena Rasulullah beribadah bukan untuk mencari pahala atau surga, melainkan sebagai tujuan utama diciptakannya sebagai hamba. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzâriyât: 56)

Akhir kata, mari kita beramal ibadah semaksimal mungkin tanpa mengharap imbalan apa pun dari Allah ... kecuali rahmat-Nya. Semoga kita selalu berada di jalan yang mudah-mudahan itu jalan-Nya.


Literatur

الحكم العطائية شرح وتحليل ج ١ ص ٢١
من علامة الاعتماد على العمل نقصان الرجاء عند وجود الزلل.
الاعتماد على العمل أهو في الشريعة أمر محمود أم مذموم؟ يقول لنا ابن عطاء الله: إياك أن تعتمد في رضا الله عنك وفي الجزاء الذي وعدك به على عمل قد فعلته ووفقت له، كالصلاة، كالصوم، كالصدقات، كالمبرات المختلفة، بل اعتمد في ذلك على لطف الله وفضله وكرمه.
هل هنالك من دليل على هذا؟ نعم، إنه حديث رسول الله صلى الله عليه وسلم الذي رواه البخاري وغيره: «لن يدخل أحدَكم الجنة عملُه» قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ قال: «ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمته».
إذن فالعمل ليس ثمنا لدخول الجنة. وإذا كان الأمر كذلك فالمطلوب إذا وفقت لأداء الطاعات أن تطمع برضا الله وثوابه، أملا منك بفضله وكرمه، لا أجرا على ذات العمل الذي وفقت إليه.