Andai Bisa Terbang Gratis, Saya Akan Menemuinya

M. Lutfi Hakim Selasa, 2 Juni 2015


Semasa kuliah di Timur Tengah, saya mempunyai teman dari Palu, Sulawesi Tengah. Namanya Abdullah Reza Hasan Aljufri. Ia lebih akrab disapa Habib Reza/Jufri atau Habib saja, karena ia memang masih keturunan Arab yang notabene golongan sayid. Selain sekamar, ia juga teman satu angkatan dari Indonesia yang lulus pada tahun 2014 lalu. Karena dua faktor itulah, saya dan dia tampak akrab, bahkan sangat akrab.

Kami sering menjalani aktivitas kampus dan kegiatan-kegiatan di asrama secara bersama. Seperti salat berjemaah, belajar, diskusi, sampai makan dan cuci baju. Sering juga kami duduk-duduk di kamar sambil makan kacang dan minum teh seraya bersenda gurau—dan inilah momen yang paling berkesan sampai sekarang.

Ada banyak hal yang kami bicarakan saat bersantai di kamar. Salah satunya adalah rencana berkunjung ke rumah masing-masing untuk mempererat tali silaturahmi. Memang sangat sulit untuk merealisasikannya, sebab jarak antara Jawa dan Sulawesi lumayan jauh. Tapi sebenarnya, bagi saya, jarak tidak begitu bermasalah, yang jadi masalah utama adalah ongkos, dan itu tidak sedikit.

Harapan bisa berkunjung ke Palu untuk bernostalgia dengannya terpaksa saya pendam dulu dalam hati. Hingga beberapa hari yang lalu, ketika saya membaca sebuah status di media sosial berisi Kontes Menulis Berhadiah Tiket Citilink dari Traveloka, harapan itu muncul kembali. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan yang datang dan, oleh karena itu, artikel ini saya tulis.



Itinerary perjalanan
Jika ingin berkunjung ke Palu, saya disarankan untuk datang beberapa hari setelah Lebaran, tepatnya pada tanggal 10 Syawal. “Pada hari itu, di sana akan ada hajatan besar. Yaitu peringatan haul kakek saya, Sayyid Idrus Salim AlJufri,” kata Habib Reza suatu hari.

Sayyid Idrus Salim (SIS) Aljufri adalah seorang ulama besar dari Hadhramaut (Yaman) yang datang ke Nusantara pada 1922 untuk hijrah dan berdakwah. Sebagai medium dalam berdakwah, beliau mendirikan Madrasah Al-Khairat, sebuah lembaga pendidikan Islam paling berpengaruh di Palu yang memiliki cabang—jumlahnya mencapai ribuan—yang tersebar di seantero Pulau Sulawesi. Oleh mantan Menteri Sosial Salim Segaf Aljufri, nama beliau kemudian diabadikan sebagai nama bandar udara di Palu: Mutiara SIS Al-Jufrie.

Kembali ke soal itinerary perjalanan. Seperti kata teman saya tadi, dan setelah saya mengecek di kalender, maka penerbangan “imajiner” yang saya jadwalkan dari Jawa ke Sulawesi adalah tanggal 24 Juli 2015. Adapun kepulangannya adalah tanggal 29 Juli 2015.

Untuk urusan pesawat, saya memercayakan sepenuhnya pada maskapai Citilink. Mengapa harus Citilink? Karena maskapai milik pemerintah ini dikenal dengan reputasinya yang baik dan pelayanannya yang memuaskan. Di samping itu, Citilink merupakan maskapai bertarif murah yang memiliki kredibilitas tinggi ihwal ketepatan waktu. Sebelumnya, terhitung sudah 4 kali saya naik kapal terbang kelas ekonomi milik maskapai asing yang pelayanannya biasa-biasa saja, bahkan sering kali delay. Harapan saya, mengudara bersama Citilink akan memberi kepuasan dan pengalaman baru yang mengesankan.

Sayangnya, Citilink belum melayani rute langsung ke Lembah Palu. Sehingga, mau tidak mau saya harus singgah dulu di Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar.

Memesan tiket secara online melalui Traveloka ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan selama ini. Sebelumnya, saya selalu beranggapan bahwa bertransaksi apa pun di jagat maya prosesnya ribet, rawan penipuan, dan hanya kalangan elite saja yang bisa melakukannya. Tetapi setelah mencobanya sendiri, saya jadi tahu bahwa memesan tiket di Traveloka sangat praktis dan cuma perlu 3 langkah: cari, pilih, dan terbang.

Terima kasih, Traveloka!


Catatan:
Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes menulis yang diselenggarakan oleh Traveloka dan maskapai Citilink.