Nomenklatur Suni (Wahabi)

M. Lutfi Hakim Selasa, 3 Maret 2015


Salah satu pertanyaan yang sering saya terima setelah kepulangan saya dari Yaman tiga bulan lalu adalah, eksistensi kelompok Suni di Negeri Ratu Balqis tersebut. Mereka yang bertanya tampaknya cemas, atau penasaran, melihat berbagai tayangan di televisi yang kerap menyajikan berita terkait konflik antara Suni dan Syiah di Yaman.

Dan saya selalu menjawab apa adanya. Bahwa di sana, sebagaimana di Indonesia, terdapat berbagai sekte yang tumbuh berkembang dalam sejarah pemikiran Islam. Seperti (1) Wahabi, gerakan politik yang gemar mempropagandakan bidah dan syirik; (2) Syiah, golongan yang mengultuskan Ali bin Abi Thalib serta mendeklarasikannya sebagai khalifah; dan (3) Ahli Sunah wal Jamaah, kelompok Islam berpaham moderat yang di Indonesia direpresentasikan oleh dua ormas besar: NU dan Muhammadiyah.

Jawaban tersebut mungkin sudah dianggap cukup. Namun, bukan pengelompokan seperti itu yang ingin saya sampaikan pada tulisan kali ini, tetapi tentang istilah suni dipandang dari sudut etimologi dan ambiguitas maknanya di media massa.

Kata suni berasal dari bahasa Arab sunnah yang mendapat imbuhan ya nisbah di belakangnya. Dalam kajian morfologi, ya nisbah berfungsi antara lain untuk mengubah makna isim jamid menjadi isim musytaq. Dalam bahasa Indonesia yang lebih sederhana, ya tersebut sejenis prefiks pembentuk nomina dengan arti (1) orang yang melakukan perbuatan; (2) orang yang berprofesi sebagai; (3) orang yang memiliki sifat; dan (4) alat yang dipakai untuk. Jika sunah adalah aturan agama yang didasarkan atas segala apa yang dinukilkan dari Rasulullah, baik perbuatan, perkataan, maupun sikap, maka suni secara harfiah bisa diartikan sebagai ‘orang yang melakukan perbuatan berdasarkan sunah rasul’ atau ‘orang yang perangainya sesuai dengan sunah rasul’.

Di Indonesia, istilah yang lebih sering kita dengar adalah ahli sunah (wal jamaah). Dalam buku Alaikum bis Sawâdil A’zham, KH Nawawi Abdul Aziz menyatakan bahwa yang dimaksud dengan ahli sunah adalah mereka yang keyakinan teologisnya mengikuti Imam Asy’ari atau Imam Maturidi. Sedangkan jamaah adalah mereka yang dalam praktik ibadah dan muamalahnya bertaklid pada salah satu imam mazhab empat: Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal. Dan kira-kira begitulah pemahaman yang selama ini berkembang di masyarakat kita.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ahli sunah adalah sinonim dari kata suni.

Akan tetapi, istilah suni—dengan arti seperti penjelasan KH Nawawi Abdul Aziz—berbeda dengan yang berlaku di Yaman. Di sana, istilah suni cenderung mengarah pada kelompok radikal yang gemar mengumandangkan kata bidah dan syirik. Ya, seperti yang sudah saya singgung di atas: Wahabi!



Wahabi adalah sebuah sekte garis keras pengikut Muhammad bin Abdul Wahab yang lahir pada tahun 1703 di Uyainah, daerah timur Kerajaan Arab Saudi sekarang. Ibn Abdul Wahab memiliki pemahaman keagamaan yang ekstrem, kaku, dan keras yang terus dipelihara dan diperjuangkan pengikutnya hingga saat ini. Hal ini tak lain adalah hasil dari pembacaan harfiah atas sumber-sumber ajaran Islam dan, oleh karena itu, dia menolak rasionalisme, tradisi, dan beragam khazanah intelektual Islam yang sangat kaya. Dalam hal polemik, Kristen, Syiah, dan Sufisme—atau Suni dalam konteks keindonesiaan—merupakan target utamanya.

Sejarah Wahabi tidak pernah lepas dari aksi-aksi kekerasan, baik doktrinal, kultural, maupun sosial. Dalam penaklukan Jazirah Arab pada tahun 1920-an, misalnya, lebih dari 400 ribu umat Islam dibunuh, dieksekusi secara publik atau dimutilasi, termasuk wanita dan anak-anak. Selain itu, kekayaan dan para wanita di daerah yang ditaklukkan sering dibawa sebagai rampasan perang. (Hamid Algar, Wahhabism: A Critical Essay, hlm.42)

Ringkasnya, sikap dan kesukaan utama Wahabi sejak awal gerakannya, selain membunuh serta merampas kekayaan dan wanita, juga termasuk menghancurkan kuburan dan peninggalan-peninggalan bersejarah; mengharamkan tawasul, istigasah, tabaruk, syafaat dan ziarah kubur; membakar buku-buku yang tidak sejalan dengan paham mereka; memvonis musyrik, murtad dan kafir siapa pun yang melakukan amalan-amalan yang tidak sesuai dengan ajaran Wahabi, walaupun sebenarnya tidak haram.



Sementara itu, predikat Wahabi sendiri dimungkiri oleh para pengikut Ibn Abdul Wahab. Karena mereka beranggapan bahwa jalan yang mereka tempuh (manhaj wahabi) adalah dakwah keagamaan, dan bukan gerakan politik seperti yang diyakini kebanyakan orang. Atau mungkin juga karena identitas mereka yang sebenarnya sudah terkuak melalui lembaran sejarahnya yang sangat kelam....

Dan untuk menghindari predikat negatif tersebut, mereka lalu menggunakan (atau merebut?) istilah lain yang sudah lazim dipakai oleh golongan terbesar umat Islam, yaitu Suni atau Ahli Sunah wal Jamaah.

Hatta, dengan dukungan dana yang berlimpah dan penguasaan terhadap sebagian besar media, upaya tersebut tampaknya cukup berhasil sehingga membuat kita sering kali terkecoh. Seperti ketika membaca berita di media massa internasional dengan judul “Bentrok Antara Suni dan Syiah”.


Literatur

الموسوعة الحرة (ويكيبيديا) – سلفية وهابية
السلفية الوهابية أو الوهابية أو السلفية مصطلح أطلق على حركة إسلامية سنية قامت في منطقة نجد وسط شبه الجزيرة العربية في أواخر القرن الثاني عشر الهجري، الموافق للثامن عشر الميلادي على يد الشيخ محمد بن عبد الوهاب والأمير محمد بن سعود حيث تحالفا لنشر الدعوة السلفية التي قامت على إثرها الدولة السعودية الأولى والتي سيطرت على شبه الجزيرة العربية وأجزاء من العراق والشام واليمن. وقد كانت بدايتهما في الدرعية بنجد إذ أعلن محمد بن عبد الوهاب مواجهة لمن وقف ضد دعوة التوحيد وروج مظاهر الشرك واستغل العامة ولبس عليهم دينهم بعد قيامه بنصيحتهم وبيان الحق لهم وإقامة الحجة عليهم؛ فشن سلسلة من الحروب تكللت بتوحيد أجزاء واسعة من شبه الجزيرة العربية، إقامةً لدولة التوحيد والعقيدة الصحيحة وتطهيراً لأمة الإسلام من الشرك.
جاءت تسمية «الوهابية» بهذا الاسم نسبة إلى مؤسسها محمد بن عبد الوهاب. والتسمية بحد ذاتها يرفضها أتباعها لاعتقادهم بأنها دعوة إسلامية، وأن ابن عبد الوهاب لم يبتدع مذهبًا جديدًا في الإسلام لكنه كان يدعو إلى ما كان عليه الصحابة والأئمة الأربعة من اتباع القرآن وسنة رسول الله؛ لذا فإنهم يفضلون تسميتهم بالدعوة «السلفية» نسبة للسلف الصالح، أو اسم «أهل السنة والجماعة» باعتبارهم من وجهة نظرهم مصطلح أهل السنة والجماعة كمصطلح تاريخي له أهميته تتمسك به الصوفية وأصحاب المذاهب السنية.