M. Lutfi Hakim Minggu, 17 Agustus 2014
Frasa yang saya jadikan judul tulisan ini di atas adalah julukan tidak resmi yang ditujukan kepada para pelajar Indonesia di Negara Yaman. Predikat unik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh senior saya, Muhammad Khotibul Umam, yang kemudian dipopulerkan kembali oleh Bapak Agus Maftuh Abegebriel, dosen ilmu hadis di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sekaligus pengamat politik Timur Tengah dalam sebuah interviu di stasiun televisi swasta beberapa tahun lalu.
Apa sesungguhnya arti julukan tersebut? Dan tepatkah jika julukan itu disematkan kepada mereka? Mari kita bahas satu per satu, kata demi kata.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) terbitan Pusat Bahasa mencantumkan lema santri dan menakrifkannya sebagai orang yang mendalami agama Islam. Dengan demikian, santri bukan hanya mereka yang belajar ilmu agama di pondok pesantren, melainkan semua orang yang sedang mendalami ilmu agama Islam, di mana pun ia belajar.
Di Negara Yaman, ada sekitar dua ribu pelajar asal Indonesia yang rata-rata mengambil jurusan syariat atau kajian keislaman lainnya. Mereka tersebar di berbagai daerah dan provinsi. Mulai dari Mukalla di Yaman selatan, Hudaidah di pantai Laut Merah, sampai daerah konflik dekat perbatasan Arab Saudi.
Di antara kampus-kampus perguruan tinggi di Yaman yang dihuni oleh orang Indonesia, yang paling kesohor adalah Universitas Al-Ahgaff di Kota Tarim, Provinsi Hadhramaut. Di universitas yang saban tahun memberi beasiswa penuh itu, 70 persen mahasiswanya berasal dari Indonesia. Selain Universitas Al-Ahgaff, di Hadhramaut masih ada ribat atau lembaga-lembaga pendidikan lain seperti Darul Musthofa, Ribat Tarim, Ribat Fath wal Imdad, dan Darul Ghuraba’ yang kebanyakan didominasi oleh pelajar dari Nusantara.
Adapun kata yang kedua, garuda, adalah lambang negara Indonesia (berupa gambar burung garuda dengan bulu sayap berjumlah 17, bulu ekor 8, bulu leher 45, cakar mencengkeram pita bertuliskan Bhinneka Tunggal Ika, dan berperisai lambang Pancasila di dadanya). Simbol ini selalu disematkan di kaus tim sepak bola Indonesia sebagai lambang kebangsaan sekaligus kebanggaan bagi pemakainya. Ungkapan “Garuda di dadaku” mencerminkan orang yang loyal, patriotik, dan mencintai Indonesia.
Penggabungan kata santri dengan garuda, yang kemudian menjadi sebuah lakab, mengandung arti seseorang atau sekelompok orang yang religius dan berjiwa nasionalisme tinggi.
Akan tetapi, selain sebagai penegasan identitas pelajar Indonesia di Yaman yang menjunjung tinggi eksistensi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), julukan Santri Garuda juga sebagai penyangkalan atas berbagai tudingan publik selama ini.
Seperti diberitakan media massa, Yaman merupakan salah satu negara yang menjadi basis jaringan teroris Alqaeda. Hal itu dapat dilihat, misalnya, dari pelbagai aksi peledakan bom di tanah air yang setelah diselidiki ternyata pelakunya adalah lulusan Yaman.
Memang benar, di Yaman ada juga lembaga pendidikan yang berideologi radikal dan ekstrem, seperti Pesantren Darul Hadith di Kota Dammaj, Provinsi Sa’dah. Penghuninya tak terlalu banyak, setidaknya ada 400 pelajar asal Indonesia yang menimba ilmu di sana. Selain belajar agama, konon mereka juga diajari bagaimana cara memegang senjata. Pesantren ini, meskipun masih beroperasi secara legal, termasuk lembaga pendidikan yang tidak direkomendasikan oleh pemerintah Yaman.
Persoalannya semakin pelik karena mereka didoktrin sedemikian rupa sehingga mempunyai pemikiran yang unik dan hegemonik. Contohnya: mereka tak mau difoto; tidak membolehkan ada foto presiden, bendera Merah Putih, atau lambang garuda di dalam rumah; hobi menebar propaganda bidah; menolak NKRI; dan lain sebagainya.
Selain itu, mereka juga tak bisa menerima perbedaan pendapat dan melakukan pengavelingan kebenaran secara personal serta menganggap kelompok lain sesat. Dapat dipastikan, jika mereka pulang ke Indonesia nanti tak akan bisa berinteraksi dengan NU maupun Muhammadiyah: dua organisasi terbesar di Indonesia yang berhaluan moderat. Mereka inilah yang mengancam keutuhan NKRI dan tidak pantas mendapat julukan Santri Garuda.
Akhirulkalam, saya mewakili seluruh pelajar Indonesia di Yaman yang memiliki elan patriotisme tinggi mengucapkan: Dirgahayu Republik Indonesia. Merdeka!