Isra Mikraj dengan Jiwa dan Raga, Ini Logikanya

M. Lutfi Hakim Sabtu, 16 Mei 2015


Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad pada malam hari dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Baitul Muqaddas, Palestina, dengan kendaraan burak. Sedangkan mikraj adalah perjalanan Rasulullah naik langsung ke sidratul muntaha pada malam hari untuk menerima perintah salat lima waktu. Kedua peristiwa penting dalam sejarah Islam ini terjadi hanya dalam tempo semalam—sebuah keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya. Perjalanan pada malam 27 Rajab sebelum hijrah ini juga menembus batas-batas ruang dan waktu.

Mayoritas ulama berpendapat bahwa isra mikraj terjadi dalam keadaan Rasulullah terjaga. Maksudnya dengan ruh dan jasadnya sekaligus, dan tidak dalam keadaan mimpi. Tentu saja, mereka yang imannya masih labil, atau nonmuslim, akan dengan mudah meragukan kebenaran hal tersebut: bagaimana mungkin perjalanan sejauh itu ditempuh hanya dalam waktu semalam kalau bukan mimpi?

Seperti orang kafir Quraisy di masa lampau yang dikompori oleh Abu Jahal. Ketika Rasulullah mengabarkan peristiwa yang dialaminya, mereka malah mungkir dan memberi tepuk tangan ejekan. Tidak hanya itu, untuk memastikan kebenaran cerita nirnalar tersebut, mereka kemudian menguji Rasulullah dengan berbagai pertanyaan yang sama sekali di luar dugaan, seperti tentang jumlah dan ciri-ciri pintu Baitul Muqaddas (kebetulan di antara mereka ada yang pernah ke sana), juga soal rombongan kafilah yang baru tiba dari Syam.

Syahdan, atas pertolongan dari Allah Yang Mahakuasa, Rasulullah dengan mudah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dan membuat mereka makin tercengang. Kendati demikian, mereka tetap berkepala batu dan bersikap angkuh seraya mengatakan, “Jelas sekali. Ini adalah sihir!”

Mungkin kita masih bisa memaklumi reaksi orang-orang Quraisy itu karena mereka memang tidak ditakdirkan beriman yang, dengan demikian, tidak memercayai apa saja yang disampaikan Rasulullah sebagai kebenaran, apalagi perkara itu sulit dijangkau akal. Perlu saya jelaskan di sini bahwa kalimat “sulit dijangkau akal” bukan berarti tidak mungkin terjadi. Berbeda dengan “tidak masuk akal” yang berarti mustahil terjadi, seperti melakukan perjalanan ke arah timur dan barat pada waktu yang bersamaan.

Akan tetapi, jika seorang muslim yang hidup di negara yang mayoritas penduduknya Islam meragukan mukjizat nabinya sendiri, ini yang memprihatinkan dan terdengar aneh tapi nyata. Ironisnya lagi, mereka malah mempropagandakan kesalahpahamannya itu melalui media massa—sebuah alat yang sangat ampuh untuk mengelabui masyarakat awam.



Beberapa waktu yang lalu saya sempat menonton salah satu episode sinetron religi. Sebagai sebuah sinetron, yang biasanya lebih mengedepankan aspek hiburan daripada edukasi, memang agak mengherankan jika mengangkat isu-isu keislaman yang pelik. Dalam salah satu dialognya, ada percakapan yang secara eksplisit mengindikasikan bahwa peristiwa isra mikraj tidak dialami Rasulullah dengan ruh dan jasad sekaligus, melainkan ruhnya saja. Sayangnya, pada dialog-dialog berikutnya tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai hal ini. Tentu saja.

Tentang penjelasan logis mengenai isra mikraj dengan ruh dan jasad, kita bisa merenungkan sejenak cerita penolakan orang-orang Quraisy di atas. Seandainya Rasulullah melakukan perjalanan itu dalam keadaan mimpi, yang berarti ruhnya saja yang “terbang”, tentu mereka tidak akan menanggapinya dengan serius, apalagi sampai bertanya untuk membuktikan kebenarannya. Justru kesangsian mereka itulah, tanpa disadari, menunjukkan bahwa peristiwa itu benar-benar nyata.

Saya menganalogikannya begini. Umpamanya Anda tadi malam mimpi berlawalata keliling dunia. Lalu Anda menceritakannya kepada orang lain, “Tadi malam saya mimpi ketemu Presiden Amerika Serikat di Gedung Putih....” Kira-kira seperti apa tanggapan orang yang Anda ajak bicara? Besar kemungkinan ia akan percaya begitu saja tanpa minta pembuktian dengan bertanya, misalnya, tentang keadaan di dalam ruangan istana kepresidenan tersebut. Karena “pertemuan” yang Anda alami hanya sebatas mimpi. Dan itu tidak butuh pembuktian sebab terjadi di alam bawah sadar.

Lantas, apatah masih ada keraguan dalam diri kita?


Literatur

فقه السيرة النبوية ص ١٦٠
ويقصد بالإسراء الرحلة التي أكرم الله بها نبيه من المسجد الحرام بمكة إلى المسجد الأقصى بالقدس. أما المعراج فهو ما أعقب ذلك من العروج به إلى طبقات السموات العلا ثم الوصول به إلى حد انقطعت عنده علوم الخلائق من ملائكة وإنس وجن. كل ذلك في ليلة واحدة.
وقد اختلف في ضبط تاريخ هذه المكرمة الإلهية هل كانت في العام العاشر من بعثته صلى الله عليه وسلم أم بعد ذلك. والذي رواه ابن سعد في طبقاته الكبرى أنها كانت قبل الهجرة بثمانية عشر شهرا.
وجمهور المسلمين على أن هذه الرحلة كانت بالجسم والروح معا. ولذلك فهي من معجزاته الباهرة التي أكرمه الله بها.

المرجع السابق ص ١٦٨
ومن الأدلة التي لا تقبل الاحتمال على أن الإسراء والمعراج كانا بالجسد والروح، ما ذكرنا من استعظام مشركي قريش لذلك، وتعجبهم للخبر وسرعة تكذيبهم له؛ إذ لو كانت المسألة مسألة رؤيا وكان إخباره إياهم لذلك على هذا الوجه، لما استدعى الأمر منهم أي تعجب أو استعظام أو استنكار؛ لأن المرئيات في النوم لا حدود لها، بل يجوز مثل هذه الرؤيا حينئذ على المسلم والكافر. ولو كان الأمر كذلك لما سألوه أيضا عن صفات بيت المقدس وأبوابه وسواريه بقصد الإلزام والتحدي.