M. Lutfi Hakim Sabtu, 1 November 2014
Antipode adalah suatu tempat di belahan bumi yang letaknya berlawanan dengan tempat kita. Sedangkan Kakbah, seperti kita ketahui, merupakan bangunan suci berbentuk kubus di dalam Masjidilharam sebagai kiblat salat umat Islam. Dengan demikian, frasa antipode Kakbah mengandung arti ‘suatu tempat yang letaknya berlawanan 180 derajat dengan Kakbah’. Jika posisi Kakbah berada di koordinat 21° 25’ lintang utara dan 39° 50’ bujur timur, maka antipode Kakbah terletak di titik 21° 25’ lintang selatan dan 140° 10’ bujur barat.
Dari amatan sekilas melalui aplikasi Google Earth, antipode Kakbah berada di tengah-tengah Samudra Pasifik. Tidak begitu jelas apakah di sana terdapat sebuah daratan atau gugusan pulau-pulau kecil—dan tulisan ini tidak bermaksud membicarakan keberadaan lingkungan di sana, tetapi lebih khusus akan membahas saat matahari melintasi wilayah itu.
Selain mengitari bumi dari arah timur ke barat yang menyebabkan terjadinya pergantian siang dan malam, matahari juga bergeser ke arah utara–selatan yang dalam ilmu pengetahuan alam disebut gerak semu matahari atau gerak tahunan. Pergeseran matahari inilah yang menyebabkan terjadinya siklus musim di muka bumi.
Pada tanggal 21 Maret, matahari melintas tepat di atas garis khatulistiwa dan, pada hari-hari berikutnya, ia terus bergeser ke arah utara selama tiga bulan sampai pada garis balik bumi bagian utara. Di peta dunia, garis balik ini ditandai dengan garis titik-titik yang diberi nama Tropic of Cancer.
Setelah mencapai titik balik utara, matahari kembali bergeser ke arah selatan dengan kecepatan yang sama dan sampai ke garis khatulistiwa pada tanggal 23 September. Sesampainya di khatulistiwa, ia terus berayun ke arah selatan selama tiga bulan hingga titik balik selatan (Tropic of Capricorn) pada tanggal 22 Desember dan kemudian kembali lagi ke utara sampai khatulistiwa pada tanggal 21 Maret. Saat matahari berada di titik balik selatan atau utara—dalam term ilmu falak disebut deklinasi terjauh atau mail a’dham—ia berjarak 23,5 derajat dari ekuator.
Jadi, selama setahun, matahari akan melintas dua kali tepat di atas Kakbah: (1) saat bergeser ke utara dari khatulistiwa dan (2) saat kembali dari titik balik utara. Peristiwa serupa juga berlaku untuk antipode Kakbah di belahan bumi bagian selatan.
Dalam kajian ilmu falak, ada istilah yaumu rashdil qiblah atau hari meluruskan arah kiblat. Yaitu hari ketika matahari melintasi persis—atau mendekati persis—di atas Kakbah, sehingga semua benda yang berdiri tegak lurus akan mempunyai bayang-bayang yang menghadap tepat ke arah kiblat. Hal itu terjadi bilamana nilai deklinasi matahari (mail awwal) sama dengan lintang Mekah.
Karena statusnya sebagai momentum spesial itulah, tanggal yaumu rashdil qiblah selalu dicantumkan di kalender terbitan Menara Kudus, yaitu 28 Mei dan 16 Juli untuk tahun pendek; 27 Mei dan 15 Juli untuk tahun panjang (kabisat). Sementara kalender yang dikeluarkan PP Fadllul Wahid senantiasa menampilkan jam rashdul qiblah setiap hari untuk kota-kota besar di Pulau Jawa.
Lalu, tanggal berapa saat matahari di atas antipode Kakbah?
Tabel Ephemeris tahun 2014 menunjukkan bahwa deklinasi matahari yang mendekati angka –21° 25’ (garis lintang antipode Kakbah) adalah tanggal 29 November. Itu artinya, secara teoretis, pada saat matahari berada di titik kulminasi tempat tersebut—setelah saya lakukan perhitungan dengan aplikasi Microsoft Excel hasilnya adalah 12.09 waktu lokal atau 21.09 GMT—semua bayang-bayang benda yang berdiri tegak lurus akan menghadap ke kiblat, termasuk di wilayah Indonesia bagian timur yang, jika dikonversikan ke zona waktu setempat, bertepatan dengan hari Minggu, 30 November 2014 pukul 06.09 WIT.
Selain wilayah Indonesia bagian timur, daerah/kota lain yang bisa menyaksikan peristiwa alam ini antara lain: Sidney, Australia; Wellington, Selandia Baru; Buenos Aires, Argentina; New York, Amerika Serikat; Los Angeles, Amerika Serikat; Kota Meksiko, Meksiko; Sao Paolo, Brazil; Lima, Peru; Montevideo, Uruguay; Bogota, Kolombia; Caracas, Vinezuela; dan kota-kota di sekitarnya.
Terakhir, semoga tulisan ini—mesti buru-buru saya akui masih rudin informasi—dapat memperkaya wawasan sekaligus meningkatkan horizon keilmuan para pencinta ilmu hisab dan falak, di mana pun mereka berada.