M. Lutfi Hakim Rabu, 16 April 2014
Hidup satu atap dengan ratusan orang dari berbagai suku, bangsa, dan negara, tentu menyimpan kisah dan pengalaman yang mengesankan, baik itu suka maupun duka. Kisah sukanya, antara lain, kita bisa mengetahui keunikan ragam bahasa, tradisi, dan adat istiadat masing-masing yang patut kita hargai. Selain itu, kita juga bisa bersenda gurau untuk sekadar mengurangi rasa tenat setelah seharian penuh menjalani aktivitas kuliah yang superpadat.
Akan tetapi, hidup bersama “mereka” juga bisa membuat frustrasi.
Kali ini saya ingin bercerita tentang sekelompok penghuni asrama yang ulahnya selalu bikin frustrasi itu. Mereka semuanya berkulit hitam, bau, dan sangat egois: mementingkan kelompoknya sendiri tanpa memedulikan hak asasi orang lain. Postur tubuh mereka sangat kecil dan karena itulah keberadaannya sulit diendus. Kehadirannya di asrama sebenarnya tidak diinginkan oleh siapa pun. Tetapi sayangnya, kami—semua mahasiswa Universitas Al-Ahgaff—tidak sanggup untuk menolak, apalagi mengusirnya ke luar asrama.
Tidak! Saya tidak akan membicarakan orang-orang Afrika yang terkadang menjengkelkan itu, melainkan para imigran asing yang jumlahnya tak terhingga. Kami menyebut mereka dengan nama yang sangat anggun: kepinding. Meskipun sebenarnya masih ada pilihan nama lain yang lebih familier di telinga kita, yaitu kutu busuk. Atau yang biasa digunakan untuk memaki dan mengumpat: bangsat.
Mari saya ajak berkenalan lebih dekat. Kepinding adalah kutu pengisap darah yang sangat ganas. Ia biasa hidup dan bersembunyi di tempat-tempat strategis, seperti di sela-sela kardus, di balik kasur, hingga lipatan kertas. Kadang-kadang kepinding juga terlihat di baju dan sarung walaupun tengah dipakai salat oleh pemiliknya.
Makhluk berkaki enam ini memburu darah selama 24 jam nonstop. Melebihi jam kerja saudaranya, nyamuk, yang “hanya” sekitar empat belas jam—dari pukul 5 sore sampai pukul 7 pagi. Untungnya di sini hampir tidak ada nyamuk, karena setahun hujan turun cuma tiga-empat kali saja. Jadi tidak banyak genangan air untuk tempat bertelur dan berkembang biak.
Untuk urusan darah, kepinding seolah-olah tak kenal bosan. Entah sudah berapa galon darah yang telah mereka teguk. Bahkan saking ganasnya, mereka bisa minum darah hingga melebihi berat badannya sendiri. Mungkin di dunia ini hanya kepinding dan nyamuk yang memiliki keistimewaan seperti itu. Bayangkan, porsi makan mereka melebihi berat badannya sendiri. Sangat rakus sekali, bukan? Seperti koruptor yang tak pernah kenyang memakan uang rakyat. Bagaimana kalau para koruptor itu kita namai kepinding saja? Toh keduanya sama-sama busuk. Jadinya nanti KPK adalah singkatan dari Komisi Pemberantasan Kepinding. Percayalah, KPK dengan nama baru ini masih terkesan gagah meskipun ada sebagian pihak yang menjulukinya cecak.
Teman sekamar saya ada yang tahan dan tabah menghadapi siksaan kepinding. Ada juga yang mencoba melawan meskipun akhirnya menyerah juga. Seperti Abduh Maqbul, 23 tahun, mahasiswa asal pesisir Laut Merah yang sudah empat tahun tinggal di asrama. Ia jarang sekali menempati ranjangnya dan memilih tidur di lantai atau atap dengan beralaskan sajadah. Berhari-hari ia sibuk menjemur kasurnya sebelum akhirnya menyerah juga. “Saya sudah memerangi mereka [dengan cara menjemur kasur] sejak beberapa hari lalu. Dan saya memutuskan untuk mengalah saja.” katanya.
Di kamar lain, ada yang memerangi kepinding dengan cara menyiram dengan bensin atau air dicampur detergen. Ada juga yang sedikit lebih modern, yaitu dengan menyemprotkan minyak wangi. Mungkin cara seperti itu cukup efektif, tetapi tidak untuk jangka panjang.
Saya sendiri pernah memesan obat penangkal serangga langsung dari Indonesia, namanya kapur ajaib. Dulu, sewaktu saya masih di pondok pesantren, obat ini berhasil memusnahkan ratusan ekor kecoa yang hidup di tempat penyimpanan beras. Akan tetapi, di negara Yaman ini, keajaiban kapur itu seolah-olah lesap. Terbukti saya masih sering melihat mereka (kepinding berengsek itu) mondar-mandir di sekitar tempat tidur, meski di sekelilingnya sudah saya beri garis pembatas.
Akhirnya saya pun menyerah dan tidak mau lagi berurusan dengan mereka. Saya juga tidak tahu, dengan cara apa lagi binatang-binatang itu dapat dibinasakan. Apakah kalian punya saran?