Jongko

M. Lutfi Hakim Sabtu, 17 Mei 2014


Hampir setiap hari saya selalu mendatangi tempat ini: sebuah bangunan kecil semipermanen di depan kampus Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff, Hadhramaut, Yaman. Orang-orang pribumi, begitu pula para pelajar Indonesia, menyebutnya baqâlah yang dalam bahasa Indonesia sepadan dengan kedai atau jongko.

Saya menyukai tempat ini karena lokasinya yang strategis, harga makanan dan minumannya yang serbamurah, juga karena ada televisi yang chanel-nya bisa dipindah-pindah sesuai selera kita. Lebih dari itu, yang tak kalah penting, di sini boleh tasjîl alias utang dulu sampai tenggat yang bisa dikompromikan. Oleh karena itu, meskipun tanggung bulan, saya dan teman-teman tetap leluasa bisa ke sini.

Seperti umumnya jongko-jongko di Hadhramaut, tidak ada yang istimewa dari tempat nongkrong yang satu ini. Aneka jenis makanan yang dijual juga itu-itu saja: biskuit, telur rebus, mi instan, kerupuk, bakhamri (roti goreng), sambosah (makanan berbentuk segitiga berisi adonan kentang), dan khubez (roti bakar). Sementara untuk jenis minuman ada teh, halib (teh dicampur susu), qahwah zanjabil (wedang jahe), jus lemon, dan minuman segar lainnya.

Tadi sore saya bersama dua orang teman—Syaiful Arif dan Musthofa—datang ke tempat ini seraya menikmati suasana jalanan Kota Tarim. Sambil memandangi kendaraan yang hilir mudik, saya memesan khubez dan teh arab. Sementara dua teman saya hanya memesan halib. Satu potong khubez harganya 30 rial; segelas halib harganya 30 rial; sedangkan tehnya seharga 20 rial. Satu rial (Yaman) kurang lebih sama dengan Rp50. Jadi, semua yang kami pesan tadi kira-kira harganya cuma Rp5.500. Murah sekali, bukan?

Barangkali Anda bertanya-tanya dalam hati: teh arab itu seperti apa, ya? Jika Anda mengetik kata kunci “teh arab” di mesin pencari Google, maka jawaban yang didapat mungkin sejenis tumbuhan semak belukar yang mengandung bahan adiktif­ senyawa zat penenang pikiran yang dapat memberi rasa ketagihan—seperti ganja. Bahkan Wikipedia Bahasa Indonesia memunyai artikel khusus tentang tumbuhan ini dengan judul qat. Tentu bukan itu yang saya maksud. Lagi pula, cara menikmati qat tidak diseduh dengan air seperti lazimnya teh, melainkan langsung dikunyah mentah-mentah.

Teh arab yang saya maksud adalah teh yang dijual di negara Arab. Bedanya dengan yang di Indonesia, meskipun berasal dari tumbuhan yang sama, teh di sini rasanya lebih kuat dan berbau sedikit apak. Maklum, teh arab tidak ada campuran bunga melati sebagaimana teh-teh di Indonesia yang berbau harum.

Oh, ya. Omong-omong soal teh, ternyata orang Arab hanya mengenal teh yang disajikan dalam keadaan hangat. Frasa “es teh” sama sekali tidak ada dalam benak mereka; mungkin sama anehnya mendengar, misalnya, “es bakso” atau “es lodeh”. Pernah suatu ketika saya iseng minta pendapat mereka tentang syahi mutsallaj (teh yang dicampur es). “Bagaimana mungkin, teh yang seyogianya diminum dalam keadaan hangat malah kalian campur dengan es?! Enggak masuk akal,” jawab mereka.

Yang rada aneh lagi, penjual teh di jongko ini sering tidak cermat menakar gula. Entah berapa kali saya mendapati teh yang saya pesan terlalu manis atau malah masih pahit. Itulah sebabnya, saya selalu minta sendok setiap kali memesan teh agar bisa mengaduk-aduk sendiri sesuka hati daripada ribut soal minuman, he-he-he.



Dalam beberapa bulan ke depan, insya Allah saya sudah pulang ke Tanah Air. Suasana jongko di sore hari seperti di atas mungkin masih membekas dalam ingatan dan membuat saya kangen dengan Negeri Ratu Balqis ini. Sungguhpun begitu, setidaknya tulisan ini masih tetap ada untuk sekadar mengobati rasa kangen itu.