M. Lutfi Hakim Selasa, 25 Maret 2014
Tak dapat dimungkiri, kehadiran media massa di era globalisasi ini tentu sangat membantu siapa pun dalam memperoleh informasi yang cepat, akurat, dan aktual. Tanpa media, kita—terutama yang berada di luar negeri—tidak akan tahu kemeriahan Piala Dunia 2014 di Brasil dan hiruk-pikuk kampanye serta sepak terjang para calon presiden di Tanah Air. Akan tetapi, di lain sisi, media massa juga bisa membuat kebingungan manakala seseorang tidak bisa mengontrol semua informasi yang berseliweran di sekitarnya.
Beberapa hari yang lalu, menjelang buka bersama di masjid Jamalul Lail, saya tanpa sengaja berada di antara dua teman yang sedang “bertengkar” memperdebatkan pilihan calon presiden masing-masing. “Kamu jangan ikut-ikutan kampanye hitam di Facebook,” kata teman yang satu, “kalau enggak paham soal politik, lebih baik diam saja.”
“Politik enggak perlu dipelajari [cukup membaca berita/artikel di media sudah bisa memahami politik],” jawab teman yang lain sekadarnya.
Saya yang hanya menyimak dan diam saja dibuat bingung: mana yang benar di antara keduanya? Sayangnya percakapan mereka hanya berlangsung singkat, karena tidak lama setelah itu azan Magrib sudah berkumandang.
Terus terang saya tidak tahu-menahu soal politik, apalagi tertarik dan ikut-ikutan membicarakannya. Tetapi percakapan kedua teman di atas membuat saya bertanya dalam hati: mungkinkah mereka telah dipengaruhi oleh media?
Tiba-tiba saya teringat pemaparan Bapak Teguh Santosa, Pemimpin Redaksi Rakyat Merdeka Online, dalam acara Simposium Nasional Persatuan Pelajar Indonesia di Yaman tahun lalu. Dalam presentasinya yang berjudul Media: Framing and Priming itu, beliau menejelaskan banyak hal yang berkaitan dengan dunia jurnalistik, terutama tentang bagaimana sebuah media bisa memengaruhi atau mengubah pola pikir seseorang.
Framing, kata Pak Teguh, adalah frame (bingkai). Sedangkan priming adalah menempatkan sesuatu menjadi prime (utama). Kalau anda melakukan framing, bisa saja secara bersamaan anda sedang melokalisasi apa yang menurut anda penting untuk diketahui orang lain. Pekerjaan utama media adalah melakukan framing (membingkai), dan di saat yang bersamaan, mempresentasikan sesuatu yang menurut mereka penting untuk anda ketahui.
Selanjutnya, lulusan Universitas Padjadjaran itu mengutip perkataan Malcolm X, “Kalau anda tidak berhati-hati ketika berinteraksi dengan media, maka anda bisa jadi membenci orang yang ditindas. Dan sebaliknya, anda bisa mencintai orang yang menindas.” Karena, lanjut Pak Teguh, apa yang anda percaya akan sesuatu itu adalah yang di-frame (dibingkai) dan yang di-prime (dijadikan topik utama) oleh media.
Saya pikir kalimat Malcolm X itu masih relevan sampai sekarang, karena sebagian besar dari kita tidak pernah tahu dengan realita. Misalnya, Anda punya opini negatif/positif tentang seorang tokoh tanpa Anda pernah bertemu langsung dengannya; tidak pernah berinteraksi, juga tidak pernah tahu jalan pikirannya. Tiba-tiba Anda jadi sangat membencinya atau sangat mencintainya hanya karena Anda membaca media. Begitu juga dengan kedua pasangan capres yang, saya yakin, sebagian besar dari kita belum pernah bertemu langsung dan hanya mengenalnya melalui media.
Dalam praktik jurnalistik, ada pemeo atau adagium “Don’t tell me the word, show me only number.” Jadi, jangan katakan kepada saya katanya (kata), tetapi tunjukkan saja angkanya. Misalnya begini, kebanyakan orang mengatakan perawakan saya ini tinggi. Tak usah sebut saya tinggi atau pendek, tetapi sebutkan saja angkanya (sekian sentimeter). Dan bagaimana angka tersebut diperbandingkan dengan angka yang lain. Sehingga dari angka-angka itu, mereka akan tahu saya ini tinggi atau pendek. Intinya, angka itu berbicara tentang fakta, tetapi kata, yang menggantikan fakta tadi, adalah opini atau cara Anda memandang.
Dan perlu diketahui bahwa setiap orang yang membuat informasi (baca: media), baik itu berita atau gambar, ia sebenarnya ingin anda punya kesimpulan tertentu. Pertanyaannya sekarang, apa yang benar dan apa yang tidak benar dalam praktik jurnalistik?
Kebenaran dalam praktik jurnalistik bukanlah kebenaran yang final, apalagi kebenaran ilahiah. Jurnalisme tidak pernah berbicara kebenaran final, tetapi yang dibicarakan adalah kebenaran fungsional. Apa itu kebenaran fungsional? kebenaran fungsional adalah kebenaran yang menjawab pertanyaan pada ruang dan waktu tertentu; (mungkin) tidak akan bisa dipakai untuk ruang dan waktu berikutnya.
Dalam kaitannya dengan kampanye capres belakangan ini, kita dapat dengan mudah membaca berita di media massa tentang kiprah seorang capres di masa lalu atau pendapat seorang tokoh tempo dulu. Lalu media, dengan segala kepentingan di belakangnya, menyangkutpautkan berita tersebut dengan kondisi politik saat ini.
Nah, akibat kebebasan pers yang begitu luas sejak tumbangnya era Orde Baru, Indonesia juga bisa terancam oleh informasi. Orang bisa langsung menganggap bahwa ia percaya pada sesuatu tanpa pernah mau mengomunikasikannya. Media itu bisa menjadi faktor yang membangun sebuah bangsa, tetapi media juga menjadi faktor yang menghancurkan sebuah bangsa.
Yang lebih berbahaya lagi adalah keberadaan media sosial seperti Twitter, Facebook, Instagram, dan lain sebagainya. Karena hanya dengan memiliki sebuah akun, semua orang bisa menyampaikan berita dan merasa dirinya power full sekali. Mereka bisa mengatakan apa pun yang mau ia katakan tanpa pernah mempertimbangkan dampak yang akan ditimbulkan.
Media massa juga sebuah alat, khususnya alat politik. Jadi jangan pernah beranggapan bahwa media massa itu adalah aktor yang bebas nilai bagaikan malaikat yang mahanetral. Ia dimiliki oleh seseorang (atau sekelompok orang) yang, tentu saja, mempunyai kepentingan dan afiliasi politik tertentu.
Cerita keberpihakan media massa kepada pemiliknya bukanlah hal baru. Contoh yang paling kentara adalah berita politik yang ditayangkan oleh TV One dan Metro TV. Yang pertama dimiliki oleh Aburizal Bakrie, Ketua Umum Partai Golkar yang mendukung pasangan Prabowo-Hatta; sedangkan yang kedua milik Surya Paloh, Ketua Umum Partai NasDem yang mendukung pasangan Jokowi-JK.
Sekali lagi, media massa itu adalah alat kepentingan. Jangan pernah berharap media massa itu berdiri di atas semua golongan. Memang, wartawannya berusaha untuk selalu membela kebenaran, tetapi ia hanya bagian kecil dari sebuah industri media.
Itulah sebabnya, tadi saya mengatakan, mungkinkah mereka berdua itu telah dipengaruhi oleh media? Atau, barangkali selama ini kitalah yang menjadi “korban” ketidaknetralan media?