M. Lutfi Hakim Minggu, 24 Agustus 2014
Apakah Tuhan merasa keberatan untuk mengabulkan dua doa yang dikirim sekaligus? Apa benar seseorang yang mendoakan orang lain itu termasuk merugi? Dua pertanyaan itu menari-nari dalam benak saya ketika semalam saya dan seorang kawan lama saling berkirim pesan melalui fasilitas obrolan di situs jejaring sosial Facebook.
Perbincangan di antara kami pada mulanya sekadar basa-basi biasa. Hingga pada akhirnya kawan saya tadi berpamitan untuk melakukan salat Tahajud. Sebelum obrolan terputus, saya meminta kepadanya untuk disertakan dalam doanya.
Tanggapan yang saya terima sungguh di luar dugaan.
“Usaha sendiri! Tuhan kita sama, bukan?” katanya. “Kalau ‘proposal’ yang dikirimkan dua, nanti akan bertumpuk, tidak segera dikabulkan.”
“Nanti kamu didoakan malaikat,” jawab saya.
Ia malah merenyuk dan bertanya, “Enak saja. Sejak kapan kamu kenal sama malaikat?”
Barangkali kawan saya itu trauma lantaran kerap mengirim proposal dan tidak lekas mendapat tanggapan. Mungkin juga ia sering berpikir logis sehingga menganalogikan doa dengan proposal yang, menurut saya, tidak sepenuhnya keliru. Karena memang diterima-tidaknya sebuah doa kadang tergantung dari siapa yang memintanya. Orang-orang yang memiliki akses langsung kepada Tuhan—seperti nabi, wali, dan kiai—akan lebih mudah dan cepat dikabulkan doanya. Sama seperti proposal.
Akan tetapi, ketidaksudiannya mendoakan dengan alasan “proposal menumpuk” tentu bertolak belakang dengan pemahaman kita selama ini bahwa Allah adalah Maha Pemberi dan Pemilik segala-galanya, apalagi sebatas yang kita minta. Artinya, doa yang kita panjatkan selama ini tak sebanding dengan kekayaan dan kedermawaan Tuhan. Berbeda dengan, misalnya, pemerintah yang memiliki anggaran khusus untuk sumbangan proposal yang sangat terbatas, itu pun masih sering dikorupsi.
Sehubungan dengan itu, Allah berfirman dalam kitab suci Alquran, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku.” (Surah Al-Baqarah: 186)
Arti kata dekat di situ—menurut mufasir Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafâtihul Ghaib—ialah, apabila seseorang berdoa secara ikhlas dan dapat menenggelamkan jiwanya dalam makrifatullah, maka tidak ada lagi pemisah antara Tuhan dan dirinya. Dan itulah arti dekat yang sesungguhnya.
Sejak tadi saya tak sabar ingin mengutip kalam nabi untuk merespons pertanyaan kawan saya di atas. Berikut adalah hadis dari Ummu Darda’ yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya. Setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata, ‘Amin. Dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.’” (HR Imam Muslim dari Ummu Darda, Shahih Muslim, Hadis No. 2733)
Pesan hadis ini sangat jelas: siapa yang mau mendoakan saudaranya, maka ia akan didoakan oleh malaikat dengan doa yang sama. Di dalamnya juga tidak ada klausul yang mengharuskan kita kenal akrab dengan malaikat. Dengan demikian, pertanyaan di atas sudah terjawab dengan sendirinya. Pertanyaannya sekarang, apakah kita bersedia diam-diam mendoakan orang lain tanpa sepengetahuannya?