Dzul Jawazain

M. Lutfi Hakim Rabu, 11 Juli 2012


Balaghah adalah ilmu yang membahas tentang bahasa Arab dipandang dari aspek kesusastraan, retorika, dan keindahan gaya bahasanya. Bagi mahasiswa Indonesia di Universitas Al-Ahgaff, balaghah termasuk mata kuliah yang mempunyai tingkat kesulitan cukup tinggi. Hal itu disebabkan mereka sebelumnya tidak pernah belajar ilmu ini secara mendalam, atau hanya sebatas pengenalan saja.

Kesulitan tersebut masih ditambah lagi dengan sang dosen yang dalam penyampaiannya menggunakan bahasa tidak resmi amiyah (pasaran). Yaitu dialek lokal yang hanya bisa dipahami oleh segelintir mahasiswa atau masyarakat Arab itu sendiri. Tidak mengherankan, ketika beliau menerangkan, para mahasiswa banyak yang bermenung, bengong, atau mengantuk.

Adalah Ustaz Abdullâh bin Husain bin Aidrus Al-Aidrus, seorang doktor spesialis di bidang ilmu bahasa yang menjadi pengajar tetap di kampus Fakultas Syariat dan Hukum Universitas Al-Ahgaff untuk mata kuliah nahu dan balaghah. Beliau juga menjabat sebagai Kepala Departemen Bahasa di kampus tersebut. Kepiawaiannya dalam membuat cerita parodi menjadi ciri khasnya sendiri dalam mengajar.

Pernah suatu ketika di ruang kuliah, beliau bercerita tentang keindahan lekuk tubuh wanita. “Milik (wanita) Arab itu sangat proporsional. Tidak terlalu besar seperti perempuan Afrika, juga tidak terlalu kecil seperti perempuan Indonesia,” katanya. Tentu saja kami semua paham yang sedang dibicarakan adalah ... ya, payudaya perempuan.

Di lain kesempatan, beliau bercerita panjang lebar tentang kultur sosial masyarakat Arab dan Afrika. Namun saya kurang begitu memperhatikan. Tiba-tiba beliau berada di hadapan saya dan bertanya sesuatu. Tidak begitu jelas apa yang ditanyakan. Namun dari kedipan matanya, beliau memberi isyarat kepada saya untuk berkata “naam” saja.

Ketika saya menjawab “naam”, spontan seisi ruangan menjadi ramai dipenuhi gelak tawa teman-teman. Ketika beliau mengulang pertanyaannya untuk meyakinkan, saya baru tahu kalau yang ditanyakan adalah, “indak jawazain?” yang artinya “apakah kamu punya dua paspor (Indonesia dan Somalia)?”

Oh, ternyata saya sedang dikerjai.

Sejak kejadian itu, saya mendapat julukan dari teman-teman sebagai “dzul jawâzain” (pemilik dua paspor). Dan pada hari-hari berikutnya, saya selalu berusaha untuk memperhatikan penjelasan dari beliau, walaupun tetap saja tidak paham.